Langkah-langkah mendesah pada langit yang basah
Aku bertabuh di peluh yang lusuh
Merana dalam naungan sang mentari
Laut-laut lembut membalut karang
Menghepaskan sebuah halusinasi ke lekukan pelangi
Agar tenang kalbuku bersama warna-warninya
Mataku kalut ketika membuka dada dan tengadahkan kepala
Karena burung-burung bingung mencari anaknya yang hilang
Ingin mendekap segera ke dalam pelukannya
Lintasan kehidupan abadi jadi impian yang utuh
Untuk gapai jalan menuju Nirwana
Daun jati pun mengepak seperti merpati
Melambai-lambai hendak hilang di petang yang merah
Langkahku serupa pada dupa yang duka
Terhenti menjerat kaki yang teruji dan mengkaji hati
Aku ingin letakkan segala risau ke telapak rinaiku
Titik jemu di sedu di tungkumu
Kemana kita bawa anugrah suci yang tertumpah
Yang tercecer di bilik hatimu
Sudah letihkah circauan dendang merajai sukmamu
Aku akan pertahankan meski tak bertujuan
Letihkah kau mengajari aku pada asbak penopang harapan
yang terbuang
Kita telah tersendat mendobarak kebersamaan menuju mahligai
Yang tak terduga
Saatnya lepas dan terbuang mengurai selembar ingat lalu
Usangkan saja cerita dan kenangan yang meloncat pergi
Menggugat ribuan bahkan jutaan hari yang telah lenyap
Menukarkan segala keprihatinanya di jiwa kita
Yang tak menyatu
Pekanbaru, 10 Desember 2009
*Buat Defrina [Gadis Melayu Berkerudung Jingga]
Oleh : Pujiono Slamet