Kau ada di setiap tempat, meremukan jiwa dan hatiku
Jangan,”kataku geram.
Semuanya tersengal dan menangisiku
Kau tidur bernisan bantal keabadian
Jangan kau berteriak, setengah letihku mencarimu.
Wahai…! Embun bertandas mentari
Tolong redamkan nafas kenangan
Tak mampu rasaku hingga kering tulang tangguhku
Sungguh roboh terpecah membelah irisan hatimu
Ditepi jalan berbunga
Rasuki saja titian mimpiku
Tapi jangan sesatkan aku pada derai matamu yang syahdu
Sapa khasmu kentalkan ragumu untuk bahagia
Racuni tapi jangan matikan kekelabuan yang menjemukan
Juga menertawakan dalam kalahku
Kau tak ada tapi sumber cerita telah tertandur
Di tanah layuku
Sanggupkah ku lepaskan kau di runtuhnya
Cambuk kangenku
Pekanbaru, 24 Desember 2009

0 komentar:
Posting Komentar