WEB BLOG
this site the web

Cerpen " SURAT UNTUK IBU DI SURGA"

Seorang gadis kecil bernama Aisyah dengan telanjang kaki sedang menyusuri jalan trotoar. Dia tak pernah memperdulikan panas terik mentari yang meyengat kulitnya. Apalagi hiruk pikuk suasana kendaraan bermotor yang berlomba mengerang di tengah jalan beraspal. Asap dan debu mulai melambung di angkasa. Dan orang-orang berlalu lalang menuju tempat kerjanya masing-masing. Seperti itulah aktivitas jantung ibu kota yang di warnai kebisingan dan kemacetan di setiap paginya..
Langkahnya terhenti ketika melewati sebuah sekolah dasar. Matanya memerah saat teman-teman seusianya sedang asyik belajar dan mengenyam bangku sekolahan. Sedangkan waktu Aisyah hanya di habiskan untuk mengamen di dalam bus dengan menjajakan suaranya. Rasa iri terkadang mnyemburat dalam hatinya. Tapi dia tetap tabah dan bersyukur menerima kenyataan hidupnya itu dengan senang hati.
Ibunya meninggal akibat tabrakan kereta api saat Aisyah berumur Lima tahun. Kini dia bersama Ayahnya yang meski penyakit TBC yang di dera ayahnya sudah cukup parah. Tapi Aisyah tetap mengamen sediri karena biasanya dia berdua bersama ayahnya.
Sudah hampir dua bulan ini sesuatu telah mengusik benak Aisyah. Dia ingin bersekolah dan ingin bisa membaca dan menulis seperti teman-temanya yang bersekolah dan memliki cita-cita yang tinggi. Kata ayahnya ibunya ada di surga. Aisyah sering rindu kepada ibunya. Sedang teman sebayamya mendapatkan kasih sayang penuh dari orang tua mereka. Dia ingin menulis sebuah surat buat ibunya di surga. Itulah salah satu cara agar rindunya terobati.
“Kamu jangan aneh-aneh Aisyah. Ibumu di surga sana sudah tenang, jangan di ganggu. Mana mungkin Ibumu bisa mebaca dan mebalas suratmu. Waktu masih hidup saja di buta huruf. Kamu sering aja doa sama Allah setelah selesai sholat, insayaallah Ibumu mendengarkan doamu nanti. Tidak usah pakai surat segala.
“Dengan Merpati Pos yang pernah dulu kita beli di pasar burung. Bisa kan, mengirim surat atau pesan bermil-mil jauhnya dan kembali dengan membawa balasanya, itu kata ayah bukan...! Pasti ibu membalasnya, Aku yakin kok, yah,”soalnya dulu ibu pernah kirim surat buat kakek di kampung, bagus lho yah! Tulisannya.
Ayahnya pun merasa sedih dan mulutnya tak sanggup menjelaskan semua itu kepada Aisyah. Pikiran anak-anak seusia Aisyah memang mempunyai daya imajinsi yang cukup tinggi tanpa penalaran yang masuk akal. Apapun dikatakan Ayahnya pasti tidak mau mendengarkan walau pun itu benar adanya. Meski dulu ayahnya pernah melihat Ibunya menulis. Tapi tidak mungkin akan membalas surat. Itu mustahil.
“Udahlah yah, Aisyah nggak mau debat sama ayah lagi.
Lalu Aisyah pun segera mengambil gitarnya untuk mengamen.
“Ayah?” Aisyah pergi dulu.
“Hati-hati di jalan Aisyah,”suara ayahnya memperingatkan.
Aisyah pun keluar dari rumahnya yang bertutup dengan kardus dan beratap seng yang sudah hitam berkarat. Dia melewati sungai Ci Liwung dekat rumahnya, sungai itu bila setiap tahun pasti langganan terendam oleh banjir. Dari 13 sungai yang mengalir di Jakarta, sungai Ci Liwung memiliki dampak yang paling luas ketika musim hujan karena mengalir melalui tengah kota Jakarta dan melintasi banyak perkampungan, perumahan padat, dan pemukiman-pemukiman kumuh. Sungai ini juga dianggap sungai yang paling parah mengalami perusakan dibandingkan sungai-sungai lain yang mengalir di Jakarta. Selain karena daerah aliran sungai di bagian hulu di Puncak dan Bogor yang rusak, di Jakarta juga banyak mengalami penyempitan dan pendangkalan yang mengakibatkan potensi penyebab banjir di Jakarta menjadi besar. Kadang aisyah dan ayahnya mengungsi jauh dari tmpat tinggal yang sangat memperhatikan itu. Dan setelah air surut iasyah dan ayahnya pun kembali meski sudah berantakan tempat tinggalnya. Lalu dari arah belakang datang Ardi teman seprofesinya sebagai pengamen.
“Aisyah! Kamu tahu ga aku sekarang sekolah.
”Dimana? Kata aisyah penasaran.
“Tempatnya di kolong jembatan di Gang 24 Panggo Tanjung Priuk Jakarta Utara..
“Nggak ah..! disana terkenal kawasan gangguan preman, perjudian dan orang yang sedang mabuk-mabukan. Aku takut kesana ntar terjadi apa-apa padaku.
“Cepatlah, gratis kok!.
“Ah...mana mungkin, Sekolah kan! harus pakai biaya. Mana ada sekolah gratis.”
“Bener aku nggak bohong,” Suara Ardi memastikan.”Gurunya bernama kak Alfina. Dia lulusan diploma 3 jurusan pendidikan di Bina Sarana informatika [BSI] jakarta pusat. Dia udah mengajar sepuluh tahun di bawah kolom jembatan. Disitu banyak temen-teman yang hidupnya di bawah garis kemiskinan seperti kita. Di sana banyak yang ikutan serta lho!. Semua itu biaya pribadi dan di bantu sukarelawan lain. Agar pengamen seperti kita bisa mengeyam pendidikan dan tidak menjadi generasi bodoh nantinya.
”Kamu sekarang kok pinter ngomomg, dan pengetahuanmu luas..!
”Ni gara-gara aku belajar sama kak Alfina. Disana di ajari membaca dam menulis dan hitung-hitungan baik perkalian maupun pembagian.Disana ada dua gang kalau gang 24 belajarnya senin-rabu jam 10.00-11.30 dan gang 18 jumat-sabtu jam 15.00-16,30.sesui kirikulum nasional dan buku-buku yang aku baca iti dari donatur yang peduli dengan pendidikan.
Masuknya sore jam 13.00 sama jam 15.00 . Disana ada perpustakaan mini, agar pengetahuan kita tidak sempit.makanya aku tahu tentang semuamya dengan membaca. Cita-citaku kalau besar kepingin jadi Presiden...hebat kan !. Udah dulu ya aku pergi ngamen dulu.
“Pikiranya Aisyah mulai terfokus pada kata-kata Ardi. Sekolah gratis!!!.Ia ingin bisa menulis dan membaca seperti Ardi. Dalam hati kecilnya, Aisyah igin menjadi seorang dokter ahli penyakit dalam. Suatu hari dapat menolong orang dan meyembuhkan penyakit yang di derita oleh ayahnya. Sayang, mungkin ini hanya angan-angan Aisyah yang belum tercapai.
* * *
Keesokan harinya dia berangkat menuju tempat yang di tunjukkan Ardi. Dengan perasaan berdebar dan keinginannya yang menggebu-gebu. Kolong jembatan panggo memang sangat rawan dengan gangguan kriminilitas dan banyak preman yang terkdang brutal dan sering terjadi pembunuhan di tempat itu.
”Hei..! lo anak mana, ini daerah kawasan gue, pergi dari sini atau gue patahin batang leher lo. Gue bilang sekali lagi, jangan pernah nginjak tempat ini lagi.
Preman itu menarik-narik baju Aisyah hingga robek dan mendorong dadanya hingga terjatuh terduduk. Muka aisyah merah beringat dengan rasa takut yang mendalam. Tak beberapa lama kemudian datanglah seorang perempuan berumur 28 tahun bernama Delfina yang sehari hari begelut dengan anak jalanan, pengemis, pengamaen dan anak miskin di sekitar kolom jembatan Pangga gang 4 Jakarta Utara..
”Udah bang, ini anak didikku Gue, jangan ganggu, memang dia baru tahu tempat ini.
Kemudian tanpa suara apa-apa preman itu pergi begitu saja.
”Kakak hebat, preman itu pergi.
”Adik mau kemana ?”tanya wanita itu.
”Kak, aku mau ke kolong jembatan Panggo Gang 4,” Aisyah menjelaskan.
”Memang ke tempat itu mau apa?” Tanya kak Alfian pura-pura .
”Aku mau belajar membaca dan menulis, kalau sudah bisa aku ingin kirim surat buat ibu di surga.
”O...mau ikutan temen-teman kamu belajar ya? bisa kok, bareng aja sama kakak kebutalan kakak yang mengajar di tempat itu..
Wah...kebetulan sekali kak,” Wajah Aisyah tampak bahagia. Lalu dia menggandeng tangan wanita itu dan dalam perjalanan mereka saling berkenalan ngobral dengan akrabnya.
Hampir tiga bulan Aisyah belajar bersama kak Alfina dan akhirnya mahir membaca dan menulis. Hari demi hari ia menulis surat buat ibunya. Berkali-kali dia menulis kadang salah dan menulisnya kembali sampai benar. Dia berharap tulisanya dapat di mengerti oleh Ibunya. Makanya aisyah sebagus mungkin menulis surat buat Ibunya.
* * *
”Ayah, kenapa Ibu sampai satu bulan ini belum membalas surat Aisyah ? Apa ibu udah nggak sayang lagi sama Aisyah.
”Sudahlah, kamu jangan beharap seperti itu. Biarkan Ibumu tenang di surga. Ibu kamu pasti liahat kamu kok dan ibumu pasti rindu juga sama kamu.
”Ayah jahat, aku benci Ayah. Ayah menganggap Aisyah menghayal. Aisyah percaya kalau Ibu pasti mebalas suratku. Aku akan menunggu Merpati Posku sampai kapan pun, aku tetap menunggu balasan surat dari Ibu.
”Aisyah makan dulu, nanti nasi bungkusnya keburu dingin, nanti kamu sakit lho!
Sudah hampir satu bulan labih Merpati Pos itu tak kunjung datang, Ia merasa sia-sia belajar membaca dan menulis selama ini, ternyata ibunya tidak membalasnya.
”Ayah Merpati Pos kita telah datang, pasti membawa balasan dari surga buat Aisyah. Lihat ayah, ada surat di punggung merpati itu.
Aisyah dengan perlahan membukanya. Lalu membacanya. Dan Ayahnya memperhatikan dengan seksama.

Aisyah anakku,
Sekarang ibu sudah tenag di surga, jangan nakal ya ? Jaga ayah kamu baik-baik. Jangan lupa sholat lima waktu. Kalau kamu rindu dengan ibu tulis saja suratnya. Pasti ibu mrembalasnya. Selamat tinggal Aisyah. jaga dirimu.

Ibumu tersayang

Ayahnya merasa tidak percaya, sepertinya mustahil tapi kenyataanya benar-benar nyata. Karena bentuk tulisanya sama persis dengan ibunya. Sepertinya Aisyah bahagia atas balasan surat itu. Di peluknya erat-erat di dadanya. Terkadang di baca berkali-kali untuk melampiaskan segala kebahagiaanya. Lalu dengan rasa haru Ayahnya memeluk Aisyah, rasa bahagia Ayahnya terukir di senyumya yang manis itu. Dia menengadahkan kepala ke atas seraya memuji kebesaran-Nya.

Pekanbaru,Maret 2010

*Momentum Hari pendidikan Nasional
Oleh : Pujiono Slamet

0 komentar:

Posting Komentar

 

W3C Validations

Cum sociis natoque penatibus et magnis dis parturient montes, nascetur ridiculus mus. Morbi dapibus dolor sit amet metus suscipit iaculis. Quisque at nulla eu elit adipiscing tempor.

Usage Policies