WEB BLOG
this site the web

Recent Photos

image
image
image

Puisi "Senyummu"


senyumlah kau dalam jiwaku

agar luka hatiku tak bertambah parah

kepakkan sayap-ayap cintamu untukku

dan taburkan seikat bunga kasihmu

yang tertambat

di kawah-kawah sepiku

i
Pekanbaru, Dersember 2010

Cerpen "Arti Sebuah Kesalahan"


Barianto telah mempersiapkan segala perlengkapan untuk membuat petasan skala besar.Gelondongan untuk petasan ia pakai dari buku-buku SD yang tak terpakai. Racikan obat berupa serbuk warna silver yang di beli dari temannya ia buka untuk di masukkan kedalam gelondongan berdiameter lima belas cm yamg terdiri empat buah.

Ia telah memikirkan perbuatan itu sangat berbahaya, tapi dengan kemampuannya ia bisa mengkelabuhi bak tentara yang memiliki taktik perang yang hebat.

Dari dalam hatinya terbesit sebuah cita-cita untuk menjadi tentara, tapi semua harapannya kandas karena orang tuanya hanya mampu untuk menyekolahkanya sampai SD. Meski orang tuanya bekerja sebagai buruh tani , ia tak malas untuk membantu.Sering ia mencari rumput untuk ternak sapinya, ia tak malu dengan pekerjaan itu, meski teman-temanya seusinya melanjutkan ke-SMP.

Malampun merangkak dengan cepat,terdengar suara orang takbiran bersahutan di mushola dekat rumahnya maupun di masjid. Di tengah-tengah desa yang jauh dari penduduk ia tanam empat petasan dalam tanah, tak mungkin ia menyulutnya langsung karena orang takut mencurigainya. Ia melilitkan sumbu petasan pada obat nyamuk. Jika api obat nyamuk itu menyentuh sumbu api maka akan terjadi ledakan secara otomatis. Dengan tidak merasa bersalah ia lansung pergi bergabung bersama teman-temannya ke masjid untuk takbiran. Ia telah memperekdisikan waktu kapan petasan itu akan meladak,ia atur peledakan tepat jam dua belas malam, ketika semua orang tidur.
Tak lama kemudian suara petasan itu menggelegar keras tepat jam dua belas malam,membangunkan seluruh warga.

"Ada suara bom," kata salah satu warga.

Kebulan asap membumbung tinggi, bau obat petasan itu terlalu menyengat sehingga sebagian orang menutup hidungnya. Hamburan kertas yang yang hancur itu terseret-seret angin malam.

"ini tidak bisa dibiarkan, kita harus cari pelakunya sekarang juga.

Kemudian Barianto pun, memulai berbicara tanpa bersalah.

"Ya pak RT, kita harus mencari dengan cepat agar ledakan sperti ini tak terulang lagi.Ini sangat meresahkan masyarakat.

"Setuju...setuju...," suara warga serentak.

"O ya pak RT,bagaimana kalau kita memeriksa sekitar ledakan siapa tahu ada yang mencurigakan.

Kemudian seluruh warga bergerak.Bari pun berpura-pura ikut bergerak bersama warga lainnya.

Salah satu warga berteriak lantang.

"Pak RT kita bisa menemukan segera pelakunya dengan kertas yang saya pegang.

"Maksud kamu apa Tino,"suara pak RT tak percaya.

"Saudara-saudra semua, kita telah menemukan pelakunya.Orangnya berada disekitar kita.

Barianto pun merasa tak gentar, mana mungkin mereka menemukan pelakunya.Sedangkan waktu peledakan tak ada seorang pun mencurigakan.

"Orang itu tak lain adalah Barianto..ini ada tulisan namamu, kamu gak mungkin berkutik maupun mengelak.Ayo kita bawa ke balai desa.

Kemudian Bari pun dibawa dengan paksa menuju balai desa bak seorang teroris kelas kakap.

Di balai desa ia pertemukan dengan pak Lurah, RT ,RW. Kedua orang tua Barianto merasa tertekan dengan kajadian itu. Akhirnya masalahnya diselesaikan dengan menanda tangani pernyataan untuk tidak mengulangi lagi, jika itu di langgar akan berurusan dengan polisi.

Setelah kejadian itu para warga dan pemuda membencinya.Barianto merebahkan tubuhnya di sebuah rumah pohan yang ia buat sendiri dari kayu jati yang tak terpakai dari penggerajian mbah Mangun.Ia tata sedemikain rupa sehingga terlihat nyaman.Ia merasa menyesal dengan perbuatannya. Ia ingin menebus kesalahannya.Ia mendengar gosip yang sagat meresahkan masyarakt yang dilakukan perampok yaitu pencurian sapi dan kambing penduduk.Sebagian orang menuduh kang Parjan.

Ia berniat untuk mencari informasi tentang semua itu.Tepat jam sembilan malam ia memanjat pohon mangga sekitar rumah kang Parjan.Ia melihat tiga orang berbadan tegap berjaket hitam dan memakai topi memasuki rumah kang Parjan. Dengan perlahan ia turun dari pohon dan mengendap menuju rumah kang Parjan.Ia mengintip di papan berlubang.Ia mendengar pembicaraan empat orang itu.Besok malam mereka berencana merampok rumah pak Lurah yang merupakan juragan sapi yang palimg terkaya di desa ini.

Esok paginya Barianto menemui pemuda yang berkumpul di poskamling.

"Saya mau memberi tahu bahwa yang mencuri ternak-ternak kita adalah kang Parjan.

"Hai Bari! kamu tahu darimana.Aku tak akan percaya.

"Nanti malam mereka akan merampok ternak pak lurah,"Kata Bari memastikan.

Sepertinya pemuda-pemuda itu tak menghiraukan kata-kata bari sedukitpun dan mereka tambah syik main catur.

"Kumohon percayalah padaku, semua ini aku lakukan intuk menebus kesalahanku.

Kemudian salah satu pemuda berdiri menepuk bahu bari.

"Baiklah Bari kita percaya, tapi apa rencanamu.

"Begini rencanaku,kita kumpulkan pemuda dan penduduk untuk bersembunyi di rumah pak Lurah. Jika perampok memasuki kandang dan mengambil ternak, aku akan kasih kode.

* * *
Malam itu, Perampok mulai beraksi berada di kandang pak Lurah.Tak lama kemudian teriakan Barianto menggema.Baik penduduk dan pemuda menangkap berama-ramai peramok .Kemudian perampok dan kang parjan dibawa kekantor polisi untuk mempertanggungkan perbuatan.

* * *
Kini tibalah perpisahan itu tiba membawa sebuah kesalahan yang telah ditebus Barianto.Semau penduduk dan pemuda merasa kehilangan Seorang yang pernah menggemparkan dengan petasan.Barianto belambaikan tanganya menuju tanah rantau agar menajdi manusia yang tangguh menghadapi hidup dan meraih sebuah asa yang ia bekap bersama mentari pagi yang penuhharapan.

Jogyakarta, Desember 2010

Cerpen"Gadis Masa Lalu"



Terdengar bel berbunyi tiga kali. Murid-murid SD Setia Mulia berhamburan keluar dari ruang kelas mereka masing-masing. Seketika kegiatan belajar-mengajar yang menyita waktu dan kerap menjemukan itu, terhenti sejenak untuk dilanjutkan besok pagi. Meskipun begitu mereka tidak bosan-bosannya untuk belajar dan terus belajar meraih cita-citanya setinggi langit.

Kududuk disebuah kursi bambu, di samping teras sekolah., menikmati belaian lembut angin yang kerap meraba-raba wajahku. Bola mataku tak berkedip memandangi para petani yang menyadap karet dengan segala aktivitasnya yang membuat mereka merasa wajib untuk bekerja demi memenuhi kehidupan keluarganya. Semenjak tadi sekawanan burung kutilang enggan mengkhatamkan kicauan merdunya, menandakan masih ada kehidupan yang perlu disyukuri atas karunia yang diberikan kepada makhluk-Nya.

Hampir sembilan tahun kumengabdikan hidupku dalam dunia pendidikan. Tempat yang membuat aku merasa dibutuhkan setiap waktu, tentang sebuah kebersaman yang saling mengisi dan melengkapi.

Aku merasa bangga memuliki murid seperti Tania yang sering bertanya jika kesulitan dalam mata pelajaran.

“Pak guru belum pulang ya! Biasanya pulang cepat” suara Tania mengejutkan lamunanku.

“Eh… kamu Tania, sini duduk sama bapak, pasti kamu menunggu jemputan kan!”

Tak lama kemudian sosok perempuan keluar dari mobil Toyota Vias warna putih susu, menghampiri Tania tak lain adalah ibunya. Perempuan itu tersenyum padaku. Lalu masuk kedalam mobil dan hilang di balik pintu gerbang sekolah.

Risma Mawarni, benakku menyebutnya perlahan. Kau tak berubah Risma, masih tetap cantik seperti dulu dengan senyum pipitmu yang menawan. Kini kau semakin dewasa dan wajah keibu-ibuanmu semakin matang. Kau sanggul rabutmu yang pernah kugagumi keindahannya.

Lorong yang telah lama kututup rapat-rapat, kini kubuka kembali, seperti membuka kisah yang usang di gudang lapuk dipenuhi debu sarang laba-laba.Entah mengapa sosok Risma sering berlakaran dalam setiap lembaran hidupku yang sunyi.

Buah hatimu risma ? sangat mirip denganmu. Suatu hari Tania akan mewarisi kecantikanmu.

Sewindu yang lalu ketika kau dan aku dibangku kuliah dengan program studi jurusan bahasa dan sastra Indonesia sedangkan aku di program studi pendidikan matematika dan kelak lulus nanti ingin meneruskan cita-cita ayahku sebagai guru, sebuah cita-cita yang menurutku cukup mulia dengn embel-embel pahlawan tanpa tanda jasa.

Di kampus Risma mahasiswi yang cerdas dan kreatif dalam berkarya melalui tulisannya. Karya-karyanya berupa cerpen dan puisi sering yang dimuat diseluruh media yang ada di Indonesia dan luar negeri, maklumlah dia seoarang penulis novel muda yang sedang naik daun. Terkadang terbesit rasa cemburu yang terpendam dengan prestasinya

Aku ingin mendekatinya dan mencoba untuk mengenalnya lebih jauh. Jiwaku terkadang bergejolak maklum dia bunga kampus yang cantik jelita, tinggi semampai memancarkan pesona, kulit putih dipadu rambut hitam yang tergerai indah. Banyak cowok-cowok kampus tergila-gila denganya.

Dengan perasaan berdebar-debar, kuniatkan untuk mendekatinya.

“Selamat siang, sedang apa nih! Aku mengganggu ya?” sapaku agak gugup.”

“Mmm…Lagi ngedit naskah novelku yang ke-tiga. Kamu anak kampus disini juga ya? Aku kok baru lihat.

Syukurlah dia menanggapiku sapaanku. Ini ksempatan yang harus kupergunakan dengan sebaik-baiknya.

“Kenalkan namaku Rian Pratama.lalu aku duduk disampinya dan kemudian segera menjawab pertanyaanya yang belum aku balas.

“Mungkin kamu saja yang terlau sibuk dan tak melihatku, maklumlah kamu kan penulis terkenal dan sibuk hehe…, tapi aku sering lihat kamu kok tanpa sepengetahuanmu” balasku dengan tertawa cekikikan.

Dan dengan berjalanya waktu kami akrab dan sering curhat bareng. Tentang pengalamanya keliling Indonesia dan luar Negri. Diundang untuk talk show nasional maupun acara bedah buku dan juga acara seminar tentang kepenulisan. Terkadang Risma menceritakan pengalamanya yang begitu banyak kepadaku.

Dengan pertimbangan yang cukup lama akhirnya aku melamarnya, dia membalas lamaranku. Seketika bahagia melingkari hidupku sepertinya aku tak percaya dengan semua ini.Tapi setelah S1 aku belum dapat pekerjaan dan masih mengganggur.

“Percepat sajalah pernikahan kita, Rian. Toh dengan uang simpananku Kita bisa hidup dan membina rumah tangga kita, sambil menunggu kamu dapat pekerjaan yang cocok.

“Tapi, aku harus dapat pekerjaan dulu dan aku malu jika orang-orang berkata hanya numpang kepopuleramu. Mau ditaruh mana mukaku.

“Terserah kamulah, Rian ! itulah saran yang terbaik buat hubungan kita.tak usah hiraukan orang lain.

Akhirnya dalam pencarian yang berliku- liku, aku melamar sebagai guru honor di SD Setia Mulya. Meski gaji guru honorer tak seberapa tapi aku harus mengabdikan ilmuku untuk murud-muridku.

Dan akupun mendaftatr beasiswa S2 ke luar negeri pada departemaen komunikasi dan informatika di kotaku. Hampir satu bulan aku tak pernah sms maupun telpon Risma. Akhirnya aku dapat beasiswa kuliah S2 ke luar negri. Aku harus memberi kabar bagus ini ke Risma. Lalu suara sms berdering di hpku yang berbunyi “ Rian, temui aku di taman seperti biasa, besok. Kebetulan sekali besok aku harus menemuinya karena minggu depan aku sudah berangkat dan harus pamitan sama dia. Dan setelah menyelesaikan S2 aku akan segera melamarnya.

“ Syukurlah Rian, aku senang mendengarnya, tapi sudah terlambat.

Aku merasa bingung, apa yang sedang terjadi dengannya, lalu dia mengeluarkan sebuah surat undangan di balik tasnya.

“Ini surat undangan buat kamu, Rian ? Datang ya. maafin aku, bukan aku ingin menyakiti perasaanmu. Aku harus menuruti orang tuaku dan aku tak mau di sebut anak durhaka. Aku dijodohkan dengan pilihan orang tuaku. Minggu depan aku menikah. Sekali lagi aku minta maaf Rian.

“Apa Risma,” Seperti halilintar menyambarku disiang hari mendenagar semua ini! Mengapa kamu tak bersabar sedikit buat aku Risma., sekarang zaman modern apa masih berlaku perjodohanmu seperti Siti Nurbaya.

“Udahlah Rian”sambil memegang dua belah tanganku. Ketika cinta itu harus berakhir seperti ini kita harus terima. Apapun yang terjadi aku masih mencintaimu Rian.

“Aku atur nafasku perlahan-lahan. Kuterima kenyataan ini.Tak mungkin aku melampiaskan kemarahanku pada Risma memperkeruh keadaan saja.

“ Ku tunggu kau dipernikahanku , Rian” permimtaan Risma kepadakau.
Meski begitu berat bagiku, melepaskan Risma. Ternyata dia sudah menikah. Ini salahku, mengapa dulu aku tak segera menikahinya. Apapun yang terjadi aku harus terima. Besok aku harus datang kepermikahannya sebelum aku berangkat keluar negri.

* * *
Pernikahan yang begitu meriah dan tamu yang berjubel memberi ucapan selamat. Aku pun mulai menghampiri sang pengantin bersama tamu undangan lainya.

“Selamat menempuh hidup baru, Risma..

“Hati-hati ya Rian, jaga dirimu baik-baik.

Rasa ini sudah hancur berkeping Bukan lelaki itu bersanding tetapi aku yang berhak mendampingi Risma. Lalu ku bergegas ke air port intuk segera barangkat ke luar Negrri.

Setelah menyelesaikan S2 di luar negeri akhirnya aku kembali ke tanah air.dan kembali mengajar di SD Setia Mulya. Dan aku hanya bisa mengajar dan mengajar dan akhirnya aku diangkat menjadi guru tetap.

* * *
Terdengar bel berbunyi tiga kali. Murid-mirid SD Setia Mulya berhamburan keluar dari ruang kelas mereka masing-masing. Kini sosok Risma dan Tania pergi jauh dalam kehidupanku, terasa ada yang hilang dan meninggalkan tapak kepedihan yang masih tertinggal dalam benakku. Karena segala sesuatu yang terjadi semua adalah rahasia Tuhan, kita hanya tinggal menjalaninya. Kabar itu mencuat di media masa baik elekronik maupun tv. Satu bulan yang lalu pesawat Risma tumpangi meledak di tengah lautan menuju jakarta. Oh..kesunyianku bertambah pekat bersama hari-hariku tanpa seorang yang berarti dalam hidupku. Semoga mereka di terima di sisi-Nya. Selamat jalan Risma aku kan selalu mendoakanmu dalam setiap sujudku dan se kecil Tania.

TAFAKUR


Kukecup rajutan tangis
Di hamparan sajadahku
Menterjemahkan raga
Yang melecah
Dalam kawah dosa

Aku hendak memunguti
Serpihan harapan
Yang tercecer
Di Quantum cahaya-Mu

Dan menata celah-celah
Jiwa yang kusam
Berbaur perihku

Dalam diam kututup mata
Bertafakur melampiaskan
Kegalauanku kepada-Mu…

Biarlah aku memeluk-Mu
Dengan ketaqwaan
Dan jangan jauhkan
Rahmat-Mu yang memberkahi
Kehidupanku ini…!

Pekanbaru,Desember 2010

Pintu Tahajud-Mu


Masih kubaca setetes embun
Di ujung malam
Mendedah airmata
Yang berlakaran
Dalam sekotah doa

Ya Robb…
Ijinkan aku memetik
Kuntum kasih
Di pintu tahajudmu
Meresapi bulir dzikir
Yang meripih
Di antara bilah hatiku

Kuingin bersujud
Di kakimu
Mempersembahkan cinta
Untukmu
Dan menemuimu setiap waktu
Mendambakan kehangatan
Cahaya sucimu…

Gedang Dowo, Desember 2010

pernah dimuat dalam Buku Antologi bersama" Munahajat Sesayat Doa"2011

Puisi "Kucing" Sutardji Calzoum Bachri



ngiau! Kucing dalam darah dia menderas
lewat dia mengalir ngilu ngiau dia ber
gegas lewat dalam aortaku dalam rimba
darahku dia besar dia bukan harimau bu
kan singa bukan hiena bukan leopar dia
macam kucing bukan kucing tapi kucing
ngiau dia lapar dia merambah rimba af
rikaku dengan cakarnya dengan amuknya
dia meraung dia mengerang jangan beri
daging dia tak mau daging Jesus jangan
beri roti dia tak mau roti ngiau ku
cing meronta dalam darahku meraung
merambah barah darahku dia lapar 0 a
langkah lapar ngiau berapa juta hari
dia tak makan berapa ribu waktu dia
tak kenyang berapa juta lapar lapar ku
cingku berapa abad dia mencari menca
kar menunggu tuhan mencipta kucingku
tanpa mauku dan sekarang dia meraung
mencariMu dia lapar jangan beri da
ging jangan beri nasi tuhan mencipta
nya tanpa setahuku dan kini dia minta
tuhan sejemput saja untuk tenang seha
ri untuk kenyang sewaktu untuk tenang

NIRMALA [ Gadis Melayu ]



Kini cinta suciku masih kusematkan untukmu, biarlah air mataku menetes pertanda aku kehilanganmu. Pergi...pergilah...aku akan menyembuhkan lukaku, kau tak usah mengkwatirkanku, NIRMALA....?
 

W3C Validations

Cum sociis natoque penatibus et magnis dis parturient montes, nascetur ridiculus mus. Morbi dapibus dolor sit amet metus suscipit iaculis. Quisque at nulla eu elit adipiscing tempor.

Usage Policies