WEB BLOG
this site the web

Cerpen"Gadis Masa Lalu"



Terdengar bel berbunyi tiga kali. Murid-murid SD Setia Mulia berhamburan keluar dari ruang kelas mereka masing-masing. Seketika kegiatan belajar-mengajar yang menyita waktu dan kerap menjemukan itu, terhenti sejenak untuk dilanjutkan besok pagi. Meskipun begitu mereka tidak bosan-bosannya untuk belajar dan terus belajar meraih cita-citanya setinggi langit.

Kududuk disebuah kursi bambu, di samping teras sekolah., menikmati belaian lembut angin yang kerap meraba-raba wajahku. Bola mataku tak berkedip memandangi para petani yang menyadap karet dengan segala aktivitasnya yang membuat mereka merasa wajib untuk bekerja demi memenuhi kehidupan keluarganya. Semenjak tadi sekawanan burung kutilang enggan mengkhatamkan kicauan merdunya, menandakan masih ada kehidupan yang perlu disyukuri atas karunia yang diberikan kepada makhluk-Nya.

Hampir sembilan tahun kumengabdikan hidupku dalam dunia pendidikan. Tempat yang membuat aku merasa dibutuhkan setiap waktu, tentang sebuah kebersaman yang saling mengisi dan melengkapi.

Aku merasa bangga memuliki murid seperti Tania yang sering bertanya jika kesulitan dalam mata pelajaran.

“Pak guru belum pulang ya! Biasanya pulang cepat” suara Tania mengejutkan lamunanku.

“Eh… kamu Tania, sini duduk sama bapak, pasti kamu menunggu jemputan kan!”

Tak lama kemudian sosok perempuan keluar dari mobil Toyota Vias warna putih susu, menghampiri Tania tak lain adalah ibunya. Perempuan itu tersenyum padaku. Lalu masuk kedalam mobil dan hilang di balik pintu gerbang sekolah.

Risma Mawarni, benakku menyebutnya perlahan. Kau tak berubah Risma, masih tetap cantik seperti dulu dengan senyum pipitmu yang menawan. Kini kau semakin dewasa dan wajah keibu-ibuanmu semakin matang. Kau sanggul rabutmu yang pernah kugagumi keindahannya.

Lorong yang telah lama kututup rapat-rapat, kini kubuka kembali, seperti membuka kisah yang usang di gudang lapuk dipenuhi debu sarang laba-laba.Entah mengapa sosok Risma sering berlakaran dalam setiap lembaran hidupku yang sunyi.

Buah hatimu risma ? sangat mirip denganmu. Suatu hari Tania akan mewarisi kecantikanmu.

Sewindu yang lalu ketika kau dan aku dibangku kuliah dengan program studi jurusan bahasa dan sastra Indonesia sedangkan aku di program studi pendidikan matematika dan kelak lulus nanti ingin meneruskan cita-cita ayahku sebagai guru, sebuah cita-cita yang menurutku cukup mulia dengn embel-embel pahlawan tanpa tanda jasa.

Di kampus Risma mahasiswi yang cerdas dan kreatif dalam berkarya melalui tulisannya. Karya-karyanya berupa cerpen dan puisi sering yang dimuat diseluruh media yang ada di Indonesia dan luar negeri, maklumlah dia seoarang penulis novel muda yang sedang naik daun. Terkadang terbesit rasa cemburu yang terpendam dengan prestasinya

Aku ingin mendekatinya dan mencoba untuk mengenalnya lebih jauh. Jiwaku terkadang bergejolak maklum dia bunga kampus yang cantik jelita, tinggi semampai memancarkan pesona, kulit putih dipadu rambut hitam yang tergerai indah. Banyak cowok-cowok kampus tergila-gila denganya.

Dengan perasaan berdebar-debar, kuniatkan untuk mendekatinya.

“Selamat siang, sedang apa nih! Aku mengganggu ya?” sapaku agak gugup.”

“Mmm…Lagi ngedit naskah novelku yang ke-tiga. Kamu anak kampus disini juga ya? Aku kok baru lihat.

Syukurlah dia menanggapiku sapaanku. Ini ksempatan yang harus kupergunakan dengan sebaik-baiknya.

“Kenalkan namaku Rian Pratama.lalu aku duduk disampinya dan kemudian segera menjawab pertanyaanya yang belum aku balas.

“Mungkin kamu saja yang terlau sibuk dan tak melihatku, maklumlah kamu kan penulis terkenal dan sibuk hehe…, tapi aku sering lihat kamu kok tanpa sepengetahuanmu” balasku dengan tertawa cekikikan.

Dan dengan berjalanya waktu kami akrab dan sering curhat bareng. Tentang pengalamanya keliling Indonesia dan luar Negri. Diundang untuk talk show nasional maupun acara bedah buku dan juga acara seminar tentang kepenulisan. Terkadang Risma menceritakan pengalamanya yang begitu banyak kepadaku.

Dengan pertimbangan yang cukup lama akhirnya aku melamarnya, dia membalas lamaranku. Seketika bahagia melingkari hidupku sepertinya aku tak percaya dengan semua ini.Tapi setelah S1 aku belum dapat pekerjaan dan masih mengganggur.

“Percepat sajalah pernikahan kita, Rian. Toh dengan uang simpananku Kita bisa hidup dan membina rumah tangga kita, sambil menunggu kamu dapat pekerjaan yang cocok.

“Tapi, aku harus dapat pekerjaan dulu dan aku malu jika orang-orang berkata hanya numpang kepopuleramu. Mau ditaruh mana mukaku.

“Terserah kamulah, Rian ! itulah saran yang terbaik buat hubungan kita.tak usah hiraukan orang lain.

Akhirnya dalam pencarian yang berliku- liku, aku melamar sebagai guru honor di SD Setia Mulya. Meski gaji guru honorer tak seberapa tapi aku harus mengabdikan ilmuku untuk murud-muridku.

Dan akupun mendaftatr beasiswa S2 ke luar negeri pada departemaen komunikasi dan informatika di kotaku. Hampir satu bulan aku tak pernah sms maupun telpon Risma. Akhirnya aku dapat beasiswa kuliah S2 ke luar negri. Aku harus memberi kabar bagus ini ke Risma. Lalu suara sms berdering di hpku yang berbunyi “ Rian, temui aku di taman seperti biasa, besok. Kebetulan sekali besok aku harus menemuinya karena minggu depan aku sudah berangkat dan harus pamitan sama dia. Dan setelah menyelesaikan S2 aku akan segera melamarnya.

“ Syukurlah Rian, aku senang mendengarnya, tapi sudah terlambat.

Aku merasa bingung, apa yang sedang terjadi dengannya, lalu dia mengeluarkan sebuah surat undangan di balik tasnya.

“Ini surat undangan buat kamu, Rian ? Datang ya. maafin aku, bukan aku ingin menyakiti perasaanmu. Aku harus menuruti orang tuaku dan aku tak mau di sebut anak durhaka. Aku dijodohkan dengan pilihan orang tuaku. Minggu depan aku menikah. Sekali lagi aku minta maaf Rian.

“Apa Risma,” Seperti halilintar menyambarku disiang hari mendenagar semua ini! Mengapa kamu tak bersabar sedikit buat aku Risma., sekarang zaman modern apa masih berlaku perjodohanmu seperti Siti Nurbaya.

“Udahlah Rian”sambil memegang dua belah tanganku. Ketika cinta itu harus berakhir seperti ini kita harus terima. Apapun yang terjadi aku masih mencintaimu Rian.

“Aku atur nafasku perlahan-lahan. Kuterima kenyataan ini.Tak mungkin aku melampiaskan kemarahanku pada Risma memperkeruh keadaan saja.

“ Ku tunggu kau dipernikahanku , Rian” permimtaan Risma kepadakau.
Meski begitu berat bagiku, melepaskan Risma. Ternyata dia sudah menikah. Ini salahku, mengapa dulu aku tak segera menikahinya. Apapun yang terjadi aku harus terima. Besok aku harus datang kepermikahannya sebelum aku berangkat keluar negri.

* * *
Pernikahan yang begitu meriah dan tamu yang berjubel memberi ucapan selamat. Aku pun mulai menghampiri sang pengantin bersama tamu undangan lainya.

“Selamat menempuh hidup baru, Risma..

“Hati-hati ya Rian, jaga dirimu baik-baik.

Rasa ini sudah hancur berkeping Bukan lelaki itu bersanding tetapi aku yang berhak mendampingi Risma. Lalu ku bergegas ke air port intuk segera barangkat ke luar Negrri.

Setelah menyelesaikan S2 di luar negeri akhirnya aku kembali ke tanah air.dan kembali mengajar di SD Setia Mulya. Dan aku hanya bisa mengajar dan mengajar dan akhirnya aku diangkat menjadi guru tetap.

* * *
Terdengar bel berbunyi tiga kali. Murid-mirid SD Setia Mulya berhamburan keluar dari ruang kelas mereka masing-masing. Kini sosok Risma dan Tania pergi jauh dalam kehidupanku, terasa ada yang hilang dan meninggalkan tapak kepedihan yang masih tertinggal dalam benakku. Karena segala sesuatu yang terjadi semua adalah rahasia Tuhan, kita hanya tinggal menjalaninya. Kabar itu mencuat di media masa baik elekronik maupun tv. Satu bulan yang lalu pesawat Risma tumpangi meledak di tengah lautan menuju jakarta. Oh..kesunyianku bertambah pekat bersama hari-hariku tanpa seorang yang berarti dalam hidupku. Semoga mereka di terima di sisi-Nya. Selamat jalan Risma aku kan selalu mendoakanmu dalam setiap sujudku dan se kecil Tania.

0 komentar:

Posting Komentar

 

W3C Validations

Cum sociis natoque penatibus et magnis dis parturient montes, nascetur ridiculus mus. Morbi dapibus dolor sit amet metus suscipit iaculis. Quisque at nulla eu elit adipiscing tempor.

Usage Policies