
Barianto telah mempersiapkan segala perlengkapan untuk membuat petasan skala besar.Gelondongan untuk petasan ia pakai dari buku-buku SD yang tak terpakai. Racikan obat berupa serbuk warna silver yang di beli dari temannya ia buka untuk di masukkan kedalam gelondongan berdiameter lima belas cm yamg terdiri empat buah.
Ia telah memikirkan perbuatan itu sangat berbahaya, tapi dengan kemampuannya ia bisa mengkelabuhi bak tentara yang memiliki taktik perang yang hebat.
Dari dalam hatinya terbesit sebuah cita-cita untuk menjadi tentara, tapi semua harapannya kandas karena orang tuanya hanya mampu untuk menyekolahkanya sampai SD. Meski orang tuanya bekerja sebagai buruh tani , ia tak malas untuk membantu.Sering ia mencari rumput untuk ternak sapinya, ia tak malu dengan pekerjaan itu, meski teman-temanya seusinya melanjutkan ke-SMP.
Malampun merangkak dengan cepat,terdengar suara orang takbiran bersahutan di mushola dekat rumahnya maupun di masjid. Di tengah-tengah desa yang jauh dari penduduk ia tanam empat petasan dalam tanah, tak mungkin ia menyulutnya langsung karena orang takut mencurigainya. Ia melilitkan sumbu petasan pada obat nyamuk. Jika api obat nyamuk itu menyentuh sumbu api maka akan terjadi ledakan secara otomatis. Dengan tidak merasa bersalah ia lansung pergi bergabung bersama teman-temannya ke masjid untuk takbiran. Ia telah memperekdisikan waktu kapan petasan itu akan meladak,ia atur peledakan tepat jam dua belas malam, ketika semua orang tidur.
Tak lama kemudian suara petasan itu menggelegar keras tepat jam dua belas malam,membangunkan seluruh warga.
"Ada suara bom," kata salah satu warga.
Kebulan asap membumbung tinggi, bau obat petasan itu terlalu menyengat sehingga sebagian orang menutup hidungnya. Hamburan kertas yang yang hancur itu terseret-seret angin malam.
"ini tidak bisa dibiarkan, kita harus cari pelakunya sekarang juga.
Kemudian Barianto pun, memulai berbicara tanpa bersalah.
"Ya pak RT, kita harus mencari dengan cepat agar ledakan sperti ini tak terulang lagi.Ini sangat meresahkan masyarakat.
"Setuju...setuju...," suara warga serentak.
"O ya pak RT,bagaimana kalau kita memeriksa sekitar ledakan siapa tahu ada yang mencurigakan.
Kemudian seluruh warga bergerak.Bari pun berpura-pura ikut bergerak bersama warga lainnya.
Salah satu warga berteriak lantang.
"Pak RT kita bisa menemukan segera pelakunya dengan kertas yang saya pegang.
"Maksud kamu apa Tino,"suara pak RT tak percaya.
"Saudara-saudra semua, kita telah menemukan pelakunya.Orangnya berada disekitar kita.
Barianto pun merasa tak gentar, mana mungkin mereka menemukan pelakunya.Sedangkan waktu peledakan tak ada seorang pun mencurigakan.
"Orang itu tak lain adalah Barianto..ini ada tulisan namamu, kamu gak mungkin berkutik maupun mengelak.Ayo kita bawa ke balai desa.
Kemudian Bari pun dibawa dengan paksa menuju balai desa bak seorang teroris kelas kakap.
Di balai desa ia pertemukan dengan pak Lurah, RT ,RW. Kedua orang tua Barianto merasa tertekan dengan kajadian itu. Akhirnya masalahnya diselesaikan dengan menanda tangani pernyataan untuk tidak mengulangi lagi, jika itu di langgar akan berurusan dengan polisi.
Setelah kejadian itu para warga dan pemuda membencinya.Barianto merebahkan tubuhnya di sebuah rumah pohan yang ia buat sendiri dari kayu jati yang tak terpakai dari penggerajian mbah Mangun.Ia tata sedemikain rupa sehingga terlihat nyaman.Ia merasa menyesal dengan perbuatannya. Ia ingin menebus kesalahannya.Ia mendengar gosip yang sagat meresahkan masyarakt yang dilakukan perampok yaitu pencurian sapi dan kambing penduduk.Sebagian orang menuduh kang Parjan.
Ia berniat untuk mencari informasi tentang semua itu.Tepat jam sembilan malam ia memanjat pohon mangga sekitar rumah kang Parjan.Ia melihat tiga orang berbadan tegap berjaket hitam dan memakai topi memasuki rumah kang Parjan. Dengan perlahan ia turun dari pohon dan mengendap menuju rumah kang Parjan.Ia mengintip di papan berlubang.Ia mendengar pembicaraan empat orang itu.Besok malam mereka berencana merampok rumah pak Lurah yang merupakan juragan sapi yang palimg terkaya di desa ini.
Esok paginya Barianto menemui pemuda yang berkumpul di poskamling.
"Saya mau memberi tahu bahwa yang mencuri ternak-ternak kita adalah kang Parjan.
"Hai Bari! kamu tahu darimana.Aku tak akan percaya.
"Nanti malam mereka akan merampok ternak pak lurah,"Kata Bari memastikan.
Sepertinya pemuda-pemuda itu tak menghiraukan kata-kata bari sedukitpun dan mereka tambah syik main catur.
"Kumohon percayalah padaku, semua ini aku lakukan intuk menebus kesalahanku.
Kemudian salah satu pemuda berdiri menepuk bahu bari.
"Baiklah Bari kita percaya, tapi apa rencanamu.
"Begini rencanaku,kita kumpulkan pemuda dan penduduk untuk bersembunyi di rumah pak Lurah. Jika perampok memasuki kandang dan mengambil ternak, aku akan kasih kode.
* * *
Malam itu, Perampok mulai beraksi berada di kandang pak Lurah.Tak lama kemudian teriakan Barianto menggema.Baik penduduk dan pemuda menangkap berama-ramai peramok .Kemudian perampok dan kang parjan dibawa kekantor polisi untuk mempertanggungkan perbuatan.
* * *
Kini tibalah perpisahan itu tiba membawa sebuah kesalahan yang telah ditebus Barianto.Semau penduduk dan pemuda merasa kehilangan Seorang yang pernah menggemparkan dengan petasan.Barianto belambaikan tanganya menuju tanah rantau agar menajdi manusia yang tangguh menghadapi hidup dan meraih sebuah asa yang ia bekap bersama mentari pagi yang penuhharapan.
Jogyakarta, Desember 2010

0 komentar:
Posting Komentar