WEB BLOG
this site the web

Resensi Buku


Cerita-cerita dari Kampung Halaman

Judul Buku: Bulan Celurit Api

Pengarang: Benny Arnas

Editor: Kurnia Effendi

Penerbit: Koekoesan

Cetakan pertama, 2010

Tebal buku: 130 halaman


Perlu ada upaya melihat,
upaya melihat dengan menjungkirbalikkan segala makna yang sudah ada,
untuk sampai pada yang tak dikenal
: hidup sejati yang berada di tempat lain.

~ Arthur Rimbaud, penyair Prancis (1854-1891)

Bila seorang cerpenis muda hendak belajar tentang dedikasi dan totalitas dalam menulis cerpen, sebaiknyalah mereka belajar pada Benny Arnas. Dalam kurun waktu dua tahun, terhitung mulai Agustus 2008 hingga Agustus 2010, tak kurang dari 100 cerpen telah dipublikasikannya di koran, majalah, dan antologi bersama. Buku ini, Bulan Celurit Api, memuat 13 cerpen yang diseleksi sendiri oleh Benny Arnas.

Benang merah yang terjalin di antara 13 cerpen di buku ini adalah nuansa lokal yang kental. Dalam 13 cerpen ini, Lubuklinggau, kampung halaman Benny di Sumatera Selatan, menjadi setting yang mendominasi semua cerpen. Bahkan gaya-ungkap dan diksi yang digunakan Benny pun sangat Melayu.

Buku ini dibuka dengan cerpen bertajuk Bulan Celurit Api. Di dalamnya dikisahkan Mak Muna yang gamang menyaksikan perubahan yang terjadi dalam sebuah hajatan seorang calon kepala desa bernama Haji Makmun. Ia pergi dengan harapan menyaksikan orkes Melayu yang syahdu, anak-anak kecil melakonkan sandiwara setempat, atau para muda-mudi membacakan pantun-pantun adat. Namun, yang ia saksikan adalah pesta yang hingar-bingar dengan lagu dangdut erotis yang menjadi salah satu suguhannya. "Ayo... lanjut! Kucing Garong!!!" kata seorang pria.

Hati Mak Muna kian hancur karena mendapat kabar kalau Iyut, tetangganya, kumpul kebo dengan Rusli, anak bungsunya. Bulan sabit -- bagai celurit -- yang tampak di malam itu kemudian memerah dengan kehadiran api yang menjilat-jilati sebuah rumah: sebuah kebakaran yang menerbitkan pilu telah terjadi.

Lewat cerpen ini -- dan beberapa cerpen lainnya -- Benny berupaya memotret pergeseran nilai-nilai budaya setempat. Modernisasi yang akhirnya masuk juga ke Lubuklinggau telah membuat masyarakat mengabaikan beberapa hal yang dulu dianggap sakral. Berbagai potret itu ia tuangkan pada cerpen-cerpen seperti Hari Matinya Ketib Isa, Perkawinan Tanpa Kelamin, Tukang Cerita, Anak Ibu, Dua Beranak Temurun, dan juga sebuah cerpen yang judulnya amat panjang: Tentang Perempuan Tua dari Kampung Bukit Batu yang Mengambil Uang Getah Para dengan Mengendarai Kereta Unta Sejauh Puluhan Kilometer ke Pasar Kecamatan.

Selain cerpen-cerpen yang berupaya memotret masyarakatnya, ada juga cerpen Kembang Tanjung Kelopak Tujuh dan Bujang Kurap yang digarap Benny dengan memperhatikan legenda dan kearifan lokal. Dua cerpen ini juga yang dibuat Benny dengan menyelipkan catatan-catatan kaki yang panjang-panjang. Barangkali pembaca awam akan terganggu dan menganggap ini tak penting; namun tampaknya Benny sedang berupaya menunjukkan dasar bagi narasi-narasi yang dikembangkannya. Catatan kaki, diperlukan atau tidak, semuanya baiklah dipulangkan kepada pembaca yang beragam tingkat keseriusannya dalam melakukan kegiatan pembacaan terhadap sebuah teks sastra. Manakala ada pembaca berminat menelusuri lebih jauh suatu kearifan lokal, catatan kaki seperti ini tentunya akan bermanfaat.

Cerpen-cerpen yang bertema cinta juga digarap dengan lirih oleh Benny -- masih dalam koridor upayanya memotret pergeseran nilai-nilai budaya lokal. Kisah-kisah cinta di buku ini cenderung tentang cinta terlarang; atau hati manusia yang terluka akibat cinta yang terpuruk.

Surat-sajak yang Mengantarmu Pulang adalah cerpen yang memadukan narasi dengan puisi. Kalimat-kalimatnya tersusun indah dan puitis. Malam Rajam adalah cerpen yang begitu matang dengan penggambaran sisi batin seorang tokoh wanita yang tertindas dan mengundang rasa iba. Seorang pembantu rumah tangga awalnya hendak dinikahi anak majikannya. Namun, pernikahan itu batal karena si lelaki memilih wanita lain setelah konflik kecil terjadi di antara mereka. Cerpen Percakapan Pengantin terkisah dengan memuat dialog dan penggambaran ekspresi kedua tokoh pengantin yang sedang amat berbahagia -- walau pesta pernikahan mereka berlangsung dengan amat sederhana.

Cerpen Dilarang Meminang Gadis Berkereta Unta memiliki muatan yang mirip dengan Malam Rajam. Para pembaca diajak untuk berempati terhadap seorang wanita yang tak lagi perawan bukan karena pernah ditiduri lelaki, namun selama bertahun-tahun ia menggenjot sepeda unta puluhan kilometer demi pergi-pulang sekolah. Pernikahannya pun terancam, karena si lelaki menjunjung tinggi keperawanan wanita yang (akan) ia nikahi.

Cerpen-cerpen Benny di buku ini menggambarkan visi penulisnya yang jelas dan fokus: Benny membangun kepengarangannya dengan mengeksplorasi estetika bahasa yang selama ini tak diperhatikan -- atau memantik minat -- cerpenis-cerpenis lainnya yang lebih cenderung menyuguhkan cerita tentang masyarakat urban yang plural; atau masyarakat dengan kehidupan sosial yang sehari-harinya tampak dalam liputan media cetak dan elektronik. Avianti Armand, seorang cerpenis, dalam endorsement-nya di sampul belakang buku, menyebut Benny sebagai seorang yang melakukan resistensi atas derasnya arus internasionalisasi.

Kerja kolaboratif juga dihelat demi menyemarakkan buku yang dikemas dengan tampilan yang elok ini. Di dalam tiap cerpen ada beberapa perupa dan fotografer yang turut dilibatkan sebagai ilustrator. Ilustrasi yang mereka buat ditempatkan di bagian awal tiap cerpen. Bahkan Kurnia Effendi, cerpenis senior yang tersohor dengan cerpen-cerpen cintanya, menjadi editor bagi buku ini. Sudah sepatutnya para pembaca dan penikmat sastra menyambut kehadiran buku ini dengan gembira. (*)

Ditulis Sidik Nugroho, penyuka cerpen

0 komentar:

Posting Komentar

 

W3C Validations

Cum sociis natoque penatibus et magnis dis parturient montes, nascetur ridiculus mus. Morbi dapibus dolor sit amet metus suscipit iaculis. Quisque at nulla eu elit adipiscing tempor.

Usage Policies