
Epigon, tampaknya cocok sekali menggambarkan perilaku masyarakat Indonesia yang berkecimpung di dunia kreatif pada umumnya.Epigon berasal dari bahasa latin epigonos atau epigignestai yang artinya adalah terlahir kemudian. kata ini kemudian diadaptasi dalam bentuk dunia sastra untuk mendeskripsikan seorang penulis yang meniru penulis lain terdahulu.
Terus bagaimana dengan dunia kreatif Indonesia? mungkin sudah menjadi rahasia umum bahwa Industri ini adalah Industri “latah”. Coba saja kita lihat beberapa tahun kebelakang. Apa saja yang menjadi populer, akan muncul tandingannya dengan mengusung ‘semangat’ yang sama. Contohnya yang paling mudah, ketika sinetron dengan siksa kubur sedang populer, seminggu kemudian akan kita dapati 5-10 sinetron baru dengan judul yang hampir mirip, tema serupa, ditayangkan di stasiun televisi lainnya. Bahkan yang saya ingat, ada sinetron yang dulunya udah ngejiplak film india tentang anak yang sedikit tertinggal, dengan mudahnya berubah haluan menjadi sinetron agamis ketika si anaknya sudah berhasil disembuhkan (lupa di seasson berapa wahahaha). Yang baru-baru ini ya kisah cinta yang berlatarkan agama seperti yang ditampilkan di Ayat-Ayat Cinta, terinspirasi dari novel kang Abik, menjadi populer, maka muncul banyak film atau sinetron lain yang mengekor dengan kualitas yang bisa saya bilang. Sinetron2 pengekor itu muncul dengan penambahan unsur “ kejaaaam sekali melawan baeeek sekali, siksa-siksaan, rebutan harta“.
Artikel muda-ers tadi juga menyebutkan sebuah novel Rumah Pelangi yang bisa dikatakan “terinsipirasi” dari novel laris Laskar Pelangi.
Nah bagaimana pendapat anda ?
Inspirasi sebenarnya boleh2 saja. Namun, seorang penulis terinspirasi oleh penulis lainnya, bukan berarti harus mencuri identitas yang membuat penulis terdahulu itu begitu dikenal. Latah sama sekali tidak menjadi masalah ketika di dalam usaha untuk “tidak membiarkan pesaing bermain sendirian” itu, pihak lain berhasil memunculkan inovasi dan ide baru yang membuat karyanya lebih unggul dari pesaingnya. Setelah Ford muncul, Toyota juga muncul, tapi apakah Toyota bersedia hanya mengekor dan membuat mobil yang sama dengan Ford? jawabannya dapat kita lihat sendiri bahwa Toyota berhasil menjadi sebuah perusahaan besar. Terinspirasi, tidak sama dengan menjiplak dan mengekor yang tanpa disertai memunculkan identitas diri sendiri dan melontarkan ide baru.
Menurut saya fenomena seperti ini sudah waktunya dihentikan. Sebuah pembudayaan ke masyarakat yang sama sekali tidak baik. Jangan sampai masyarakat mengambil makna bahwa menjiplak dan mencontek itu adalah hal yang lumrah. Kalau perlu sebaiknya pihak yang terjiplak mengambil langkah hukum sebagai pembelajaran ke pihak lain. Pemerintah juga harus mengambil sikap proaktif untuk menangani hal ini. Karena, di dalam sebuah proses tumbuhnya industri kreatif kita, epigon hanyalah akan membuat dunia lahirnya karya-karya baru yang inspiratif dan menghibur menjadi mandeg, layu sebelum berkembang.
sumber : kompas, 6 Maret 2009

0 komentar:
Posting Komentar