Melancarkan pada bongkahan batu berbukit
Terdiam di sebuah gua kedamaian
Seperti angin tak mau diam menerawang tegas
Melebur dan berbaur di ruang dekapku
Aroma duka mampu bunuh cinta yang berselaksa gaduh
Mengapa bidadari-bidadari tersungging malu mematahkan hatiku
Kumpulan penyair merasuki ruang inspirasinya yang kacau
Menumbangkan keserakahan kata untuk menjadi bualan nyata
Kehidupan
Angin dan mendung seraya menyayat tentang batin dan rindu
Yang tercabik di emperan hatiku
Cium tanganku yang lumpuh agar bersanding didekapmu
Dibalik penyamaran bintik kusam menghujani lensa mataku
Sepiku mengurung air mata karena bayanganmu terenggut
Kepecundanganku
Ku bergelagak resah di hulu hatimu yang kerut
Hampir kau menindihku dalm ucap rayuan pemikatmu
Suara adhzan menggelinding di rongga pendengaranku
Aku harus tetap akhiri menu hidup berlauk muak
Tak ada yang memuncak indah di beranda-beranda kenanganku
Kecuali sujud yang tersungkur membentuk sof pencarian
Jejak-Mu menuju Surga
Pekanbaru, 29 Desember 2009
Oleh : Pujiono Slamet
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

0 komentar:
Posting Komentar