WEB BLOG
this site the web

ARTI SEBUAH PERSAHABATAN

Siang yang memuncak terik matahari makin memanas merayapi wajahku yang bersimbah keringat yang mengucur deras. Disaat rambu lalu lintas berwarna merah. Aku berhenti, kulihat para pengamen sedang mengalunkan lagu berjudul sarjana muda yang dipopulerkan iwan Fals, sangat menyentuh sekali dan beberapa pedagang asongan sedang asyik menjajakan daganganya kepada pengendara sepeda motor, angkutan umum dan beberapa mobil angkutan barang lainnya. Setelah lampu menyala hijau, aku pun mulai lajukan kendaraanku menuju rumah sahabatku Rina Astuti. Ia adalah sahabat yang sama-sama berkuliah di Universitas terkemuka di kota kami dan jurusan kami manajemen akuntasi semester lima. Tiga bulan belakangan ini, aku naksir sama ajeng, ia temannya Rina yang sam-sama kuliah di tempatku, tapi ia dijurusan bahasa inggris semester empat. Sudah lama aku menaruh hati padanya meski penolakan-penolakan yang aku dapati, aku nggak akan pantang mundur.Ya… namanya juga usaha
Sesampainya di rumah Rina aku melihat dia sedang berada di teras rumahnya, aku pun mulai mendekatinya.
“ Rin, Gimana hasilnya? apa Ajeng masih kekeh ga mau sama aku juga, tolong dong rin! aku mencintainya,”suaraku merengek pada Rina..
“Sudahlah Firman, mungkin Ajeng bukan jodoh kamu, masih banyak kok Gadis yang suka kamu. Emang Ajeng satu-satunya di dunia ini, nggak kan!”.
“Rin, tapi aku cinta banget sama Ajeng. Dan aku nggak bisa lupakan dia begitu saja, . terlalu banyak kenangan yang pernah terukir dalam hidupku bersamnya. Mata yang sebening kristal, senyuman yang manis terpatri begitu indah, apalagi sosok gadis melayu yang aku dambakan selama ini, anggun, tutur sapanya menawan pokoknya dia gadis paling sempurna yang pernah ku kenal selama ini, Rin. Tolong kamu harus ngertiin aku, soalnya aku udah terlanjur jatuh cinta sama Ajeng. Tolong Bantu sekali lagi dan bujuk ia agar aku dapat cinta darinya..
“Aku kan udah bantu kamu Fir. Tapi Ajeng masih menutup cintanya. Dan kamu nggak pernah kapok-kapoknya disakiti perasaanmu atas penolakan-penolakanya, kamu terus saja dekati Ajeng. Dan berharap mendapatkan cintanya, yang di dapati sakit hati, kan”. Aku berkali-kali melihatmu seperti itu, tapi kamu nggak perrnah jera. Kamu kayak pemgemis cinta menadahkan tanganmu pada pintu-pintu cinta yang semu. Kamu tu laki-laki, masak cinta di tolak kok masih bertahan di ujung tombak tanpa kepastian .
Kemudian Rina mendekatiku, sambil memegang pundakku. Dan berkata,
”Kamu harus akhiri semua ini Fir! Lihat badan kamu, kurus kan?” mungkin kamu kebanyakan mikirin ajeng, yang nyata-nyatanya gak suka sama kamu. Kamu masih muda jangan buat dirimu menderita kayak gini. Apa masalah cinta masa depanmu hancur begitu saja kasihan kan orang tuamu yang telah capai-capai biaya kamu selama ini. Kulihat nilai mata kuliahmu sekarang memperhatinkan. Kamu kok segitunya sama gadis melayu itu. Kamu sebagai seorang laki-laki harus punya harga diri dong!. Fir, sekarang kamu lemah dan tak punya gairah hidup seperti dulu lagi..
Aku pun terdiam sejenak, saat Rina berkata seperti itu. Aku mulai agak sadar mungkin selama ini aku hanya berharap sesuatu yang tidak pasti dan cintaku bertepuk sebelah tangan. Mengapa aku pertahankan. Hanya membuang-buang waktuku saja, aku harus bangkit dari keterpurukan ini. Masih banyak yang lebih penting daripada cinta belaka. Tentang Ajeng aku harus melupakan untuk selama-lamanya. Dan juga mengubur dalam-dalam semua kenangan indah bersamanya. Meski terasa berat dan sulit tapi aku harus mencobanya.
“Fir, kamu diam kenapa sih…!”
“Ada yang dipikirkan ya?”
“Nggak kok Rin,”jawabku singkat.
“Sebenernya kamu kerumahku cari aku atau Ajeng sih?”
Em…cari kamu Rin,” soalnya kamu baik…. banget dan sudah mau dengerin curhatku selama ini. Kamu selalu ada buatku baik disaat senang maupun sedih
“Ah, gombal kamu, Fir”
“Bener kok Rin, aku nggak bohong”.
Kemudian aku dan Rina terdiam sejenak hampir kami terbawa oleh suasana yang begiu sejuk dan nyaman di bawah sebuah pohon beringin yang begitu rindang dan asri. Dari atas ranting pohon segerombolan burung pernjak menyanyi untuk kami, merdu nian menambah romantisnya tempat itu.
Diam-diam kupandangi wajah Rina yang begitu cantik, putih bersih dengan senyum manis dibibirnya. Dan sesering angin kerap menghempaskan rambutnya yang tergerai hitam dan indah,
Aku penasaran, apa Rina sudah punya kekasih atau belum ya? tanyaku dalam hati.
“Rin, ngomong-ngomong kekasihmu siapa sih?” Apa gadis secantik dan semanis kamu, belum punya kekasih,” tanyaku penasaran.
“Ada kok Fir? Nanti aku kaenalkan ya,”jawab Rina agak malu..
Kemudian Rina pun terdiam sambil menutupi wajahnya dengan kedua belah tanganya. Aku tak tahu apa yang sedang terjadi padanya.
Lalu aku mendekati Rina, sambil membuka tangan yang menutupi wajahnya.
“Rin, kalau ada masalah ngomong dong, sama aku. Apa aku salah tanya seperti itu?”
“Nggak kok Fir.”
Lantas kamu menangis ada apa?”
“Bener kok, nggak ada apa-apa!”
“Bener nih, kamu nggak ada apa-apa? kalau gitu aku mau ngomong, mungkin terakhir kalinya aku jumpa sama kamu. Soalnya aku akan ikut orang tuaku pindah tugas ke Kalimantan. Dan aku nggak akan sering ketemuan sama kamu, tiga hari lagi aku akan berangkat Rin”. Dan sekalian aku akan pindah kuliah disana.
“Fir , boleh aku ngomong jujur terkhir kali ini ke juga ke kamu?”Ngomong apa Rin?. Kelihatanya penting banget.”
“Fir, ku mohon kamu mau degerin curhatku ya!”
Baiklah Rin,”aku pun menuruti kata Rina.
“Sejak kamu memiliki perasaan ke Ajeng, Aku sudah memiliki perasaan cinta ke kamu, kamu itu orangnya baik, sopan, nggak sombong walaupun kamu anak orang yang berada, tapi menghargai aku. Dan mau sahabatan sama aku selama ini. Meskipun aku anak orang yang sederhana dengan segala kekurangan dan kesulitanya tapi kamu nggak pernah gengsi sama aku sedikit pun”. Kamu juga ngak pernah jijik berada di rumah kumuh seperti ini.Yang penuh bau busuk menyengat, sampah-sampah.dan beberpa pemulung yang lalu lalang mencari botol bekas dan kardus untuk di jual buat menyambung hidupnya.
“Maafin aku Fir, ini terpaksa aku lakukan karena aku mencintai kamu. Sebenarnya aku takut merusak persahabatan yang udah kita jalin sejak dulu. Apalagi kamu dua bulan nggak ke rumahku. Rasa rindu ini kian menyekik batinku, kegelisahan selalu menyelimuti setiap hariku, hanya bayangmu hadir setiap anganku. Aku tahu, kalau Ajeng cinta pertamamu, dan sampai kapan pun cinta pertama tak kan pernah terlupakan di hatimu. Fir, aku sayang kamu, maafkan aku .Aku tak bisa bohongi perasaanku selama ini. Terserahh kamu, Fir. Aku sudah nggak peduli, meski persahabatan kita berakhir sampai disni.”. “Kumohon ngertiin aku, Fir.”
“Rin, kamu ini sudah kuanggap adik sendiri. Yang sudah bantu aku saat aku sedang kesusahan selama ini. Dan kamu jangan buat aku makin bingung.”
“Fir, aku perlu jawabanmu sekarang. Aku terima apa yang kamu ucapkan walaupun itu menyakitkanku.”
Aku pun terdiam sejenak, hampir aku tak percaya dengan semua ini. Ternyata Rina diam-diam mencintaiku. Aku nggak mau sakiti perasaanya. Disisi lain aku belum siap mencintainya sepenuh hati.
Rina pun menangis di hadapanku. Sebenarnya aku nggak tega melihat Rina menangis seperti itu. Kemudian kuhapus air mata yang menetes dipipinya dengan sapu tanganku.
“Sudahlah, Rin ?” jangan menangis.”
“Baiklah kalau begitu aku akan menjawabnya. Tapi kamu jangan marah Ya?”
“Sebelumnya aku minta maaf. A…ku Nggak bisa mencintai kamu, Rin. Kita sahabatan saja. Mungkin sahabatan jalan terbaik buat kita. Cinta akan membuat kita terluka dan akhirnya kecewa. Terkadang kebencian mengalahkan indahnya cinta. Aku nggak mau persahabatan kita hancur berantakan karena cinta. Cinta sejati tak akan pernah ada karena cinta sejati kita hanya kepada Tuhan..
“Aku tahu kalau kamu kecewa sama jawabanku ini.”
“Nggak kok Fir,”sambil menghapus air mata yang berderai di pipinya. “Aku akan terima jawaban yang kamu ucapkan, Fir. Aku sadar cinta tak selamanya harus memiliki. Mungkin cintamu belum berpihak kepadaku dan aku belum ada kesempatan untuk mencintaimu..Sekali lagi aku minta maaf, sudah lancang mengatakan semua perasaanku ini.”
“Udalah Rin, lupakan saja. Aku nggak marah kok.”lalu aku memberanikan diri menghapus air matanya lagi, Aku merasa terharu dan tak dapat menahan rasa tangis ini. Aku telah mengecewakan Rina. Tapi inilah yang terbaik buat aku dan Rina. Walau akhirnya aku hanya memilih persahabatan saja.





Oleh :Pujiono Slamet

0 komentar:

Posting Komentar

 

W3C Validations

Cum sociis natoque penatibus et magnis dis parturient montes, nascetur ridiculus mus. Morbi dapibus dolor sit amet metus suscipit iaculis. Quisque at nulla eu elit adipiscing tempor.

Usage Policies