WEB BLOG
this site the web

Recent Photos

image
image
image

Pintu Tahajud-Mu


Masih kubaca setetes embun
Di ujung malam
Mendedah airmata
Yang berlakaran
Dalam sekotah doa

Ya Robb…
Ijinkan aku memetik
Kuntum kasih
Di pintu tahajudmu
Meresapi bulir dzikir
Yang meripih
Di antara bilah hatiku

Kuingin bersujud
Di kakimu
Mempersembahkan cinta
Untukmu
Dan menemuimu setiap waktu
Mendambakan kehangatan
Cahaya sucimu…

Gedang Dowo, Desember 2010

pernah dimuat dalam Buku Antologi bersama" Munahajat Sesayat Doa"2011

Puisi "Kucing" Sutardji Calzoum Bachri



ngiau! Kucing dalam darah dia menderas
lewat dia mengalir ngilu ngiau dia ber
gegas lewat dalam aortaku dalam rimba
darahku dia besar dia bukan harimau bu
kan singa bukan hiena bukan leopar dia
macam kucing bukan kucing tapi kucing
ngiau dia lapar dia merambah rimba af
rikaku dengan cakarnya dengan amuknya
dia meraung dia mengerang jangan beri
daging dia tak mau daging Jesus jangan
beri roti dia tak mau roti ngiau ku
cing meronta dalam darahku meraung
merambah barah darahku dia lapar 0 a
langkah lapar ngiau berapa juta hari
dia tak makan berapa ribu waktu dia
tak kenyang berapa juta lapar lapar ku
cingku berapa abad dia mencari menca
kar menunggu tuhan mencipta kucingku
tanpa mauku dan sekarang dia meraung
mencariMu dia lapar jangan beri da
ging jangan beri nasi tuhan mencipta
nya tanpa setahuku dan kini dia minta
tuhan sejemput saja untuk tenang seha
ri untuk kenyang sewaktu untuk tenang

NIRMALA [ Gadis Melayu ]



Kini cinta suciku masih kusematkan untukmu, biarlah air mataku menetes pertanda aku kehilanganmu. Pergi...pergilah...aku akan menyembuhkan lukaku, kau tak usah mengkwatirkanku, NIRMALA....?

Bercak-bercak Dosa


Aku menua
Di panggung bumi
Berbaring merenung diri
Di ranjang hujan
Yang berdzikir nyeri

Ada jiwa-jiwa putih
Mengkaji langit
Ada gema adzan
Menuruni nisan
Di bawah senggama
Bulan purnama

Kurendam duka terakhirku
Dalam gelinjang laut
Di abjad waktu
Yang kejam menebas
Tubuhku

Kuusir bercak-bercak dosa
Yang menjalari bantaran hatiku
Membenamkan dengus isakku
Di ritual ombak yang kelam
Pada sulur-sulur malam
Yang meripih
Di lingkar mukimku

Dimuat koran Riaupos, 11 juli 2010
Pujiono Slamet

Luka Kata


aku adalah musafir
yang menapaki
sepenggal malam
pada sebaris waktu
yang meruap
di larik darahku

sempat kutebarkan ngilu
yang menggugurkan
seputik hati
membilas cabaran doa
di pahatan airmata

kuracik luka kata
yang memamah
catatan kusam
jejak duka
mengendapkan nyeri
yang teramat pekat
di tubir hariku

Pekanbaru, November 2010

kasidah cinta


kubujuk waktu
agar tak membisikan
denyar hari yang layu
menggamit pintalan resah
yang merintik
di spektrum cahayamu
yang memugar

mengenangmu bidadariku….?
seakan menjelajahi purnama
dan memetik
noktah-noktah bintang
yang terkemas
di ornamen pesonamu

pernah kusepuh ulang
jejak merahmu
pada remahan rindu
yang bergeliat
mencabik arus nadiku

tapi nyala api di matamu
melantunkan kasidah cinta
sang ilalang
mendedahkan sebentang
kenangan
yang berlakaran
di sayap khayalku

wahai bidadariku…?
merupalah
dalam kencana kasihku
dan leburkanlah
benang sari hayatmu
ke larva kalbuku…

Pekanbaru, November 2010

Sajak-sajak Berduri

untuk membuat sajak-sajak berduri

ada airmata

ada luka

ada duka

ad pengkhiyantan

dan pengorbanan
 

W3C Validations

Cum sociis natoque penatibus et magnis dis parturient montes, nascetur ridiculus mus. Morbi dapibus dolor sit amet metus suscipit iaculis. Quisque at nulla eu elit adipiscing tempor.

Usage Policies